23 February 2018

Aku Tahu, Kita harus Berjarak

  No comments    
Aku tak akan memintamu melihatku sakit, itu bukan tugasku. Tugasku adalah melepaskanmu agar kau bebas dengan pilihanmu.  Aku hanya perlu menata hatiku. Aku tahu kau sedang dalam masa sulitmu. Aku tau kau, melebihi dirimu sendiri.

Walau aku tak ingin kau menyesal atas kesalahanmu. Aku hanya ingin kau tau aku selalu ada di sampingmu, apapun keadaanmu. Aku tak akan berpura-pura tak tahu keadaanmu. Aku juga tak akan berpura-pura menemukan seseorang yang baru. Aku mencintaimu tanpa peduli aku harus kehilanganmu, nanti.

Kita berjarak demi hati yang lain. Kau harus tahu, tugasmu adalah menyelesaikan apa yang telah kau mulai. Namun ada beberapa hal yang harus benar-benar ku tinggalkan. Ada yang harus hilang dari pandangan agar menjadi kenangan.

Aku akan bertahan, aku tak ingin meninggalkan. Aku ingin menjadi tempatmu pulang. Ku anggap ini adalah ujian terbesar agar semakin tegar.


© Icha Frisca  |  Jakarta, 23-02-2018

12 February 2018

  No comments    
Perempuan;
Masih dengan hati yang tabah, tegar, diam, berdiri, berdoa, merelakan.
yang ia lakukan hanya untuk sebuah "aku mempertahankan apa yang aku miliki saat ini"

18 September 2014

Bahagia

  No comments    
categories: ,



Kamu tau arti bahagia?
Bahagia itu ketika semua rasa tercurah saat ada kamu. Ketika kamu datang dihadapan orang tuaku. Memintaku pada mereka. Menyerahkan tanggung jawab mereka kepadamu. Dengan beribu jarak telah kita tempuh bersama. Sedih, bahagia, canda, tawa, jatuh, bangkit kita selalu bergandeng tangan. Selalu meyakinkan. Banyak yang tak yakin dengan kedekatan kita, tentunya karna perbedaan sifat dan tingkah kita. Tapi krna perbedaan itulah yang mampu membuat bahagia.
Kau bilang "apa kau siap dengan apa yang ada di hadapan kita nanti?" dengan yakin aku menjawab "denganmu aku siap dan yakin melewatinya selama kita terus berpegang tangan". sungguh kau meyakinkanku tiada henti. "Tak hanya itu, selama aku mampu. aku akan selalu meyakinkanmu. Kita harus bahagia." Kesederhanaanmu membuatku selalu berdecak kagum. Pendiam, keras kepala, pekerja keras, perfeksionis, usil. Itu yang ku tahu tentangmu. Segala pekerjaan yang kamu lakukan selalu harus selesai dengan indah. Seorang yang tak hentinya beranjak dari barisan kode pemrograman, dari fajar hingga ufuk barat. Semua kau tuliskan kau tuangkan untuk mendapat sebuah tujuan membangun masa depan. Kamu yang selalu aku kagumi, sosok yang terkadang acuh dengan hembusan nafas sekitar. Tapi tidak dengan orang yang kamu sayang.
Saat orang bertanya apa yang membuatku jatuh hati padamu? Aku selalu menjawab tak tahu. yang aku tahu hanya kamu yang membuatku jatuh cinta berkali-kali. Membuatku menyairkan sayang setiap detik. Mengungkapkan cinta melalui tulisan. Meskipun aku sama denganmu satu jurusan denganmu, tapi aku tak tertarik berhadapan dengan barisan kode yang kurang bersahabat dengan jariku. Aku lebih tertarik menuliskan sajak tentang perangaimu. Perangai yang ku kagumi setelah pangeran pertamaku. Bapak.
Dengan kamu yang suka dengan kuliner, makanan, kudapan. Sama. Hingga makanan apapun yang bisa kita lakukan, kita olah makanan itu bersama. Terkadang jadi salah satu kejutan kecil hanya untuk menghangatkan suasana kedekatan kita. Bagiku, itu sangat berarti. Hal-hal kecil yang seperti itu membuatku rindu saat kita jauh. Saat kita berbeda wilayah. Karena sepiku sudah kau penuhi dengan canda, kau penuhi dengan keusilanmu. Memang tak pernah ada hentinya saat bercerita tentangmu. Kamu yang selalu mengusili kehidupanku, merubah duniaku menjadi tawa. Itulah bahagia. :)

17 September 2014

Kita

  No comments    
categories: ,
satu, kau letakkan hati ini menyatu denganmu
dua, kau berikan segala perhatian dan kasihmu nyata
tiga, kau sandarkanku dibahumu tuk lalui segalanya bersama
empat, kau tunjukkan jalan setapak berbatu hingga tak sempat
lima, kau dekap erat tanganku meyakinkan
enam, kau menguatkan saat ku terbenam
tujuh, kau selalu mengingatkan apa yang akan kita tuju
delapan, kau memberikan secercah harapan
sembilan, kau menuntun menuju pelaminan
sepuluh, melewati hidup tak berarti tanpa peluh

satu hingga sepuluh adalah kita..
kita..
ada karena aku dan kamu melengkapi
kita..
ada karena aku dan kamu berpegang teguh
kita..
ada karena janji yang kita ucapkan tuk saling menyatu
menyatukan berbagai kelemahan menjadi kekuatan
menyatukan berbagai kekurangan menjadi kelebihan
menyatukan berbagai kesedihan menjadi kebahagiaan
hingga kuat dan bersinar dengan

kita

06 June 2014

Masih?

  No comments    
categories: , ,

2 tahun memang tak sebentar. Sudah mengenal satu sama lain pasti. Bosan? ada. Tapi kenapa harus menunggu aku yang menebak? Aku yang bertanya? Kan aku sudah bilang, kalau kau merasakan itu semua jujurlah!! Tak ada akibatnya untuk hatiku dan sikapku. Hanya saja aku akan introspeksi diri. Bukan menjauh dan tidak sampai berlaga tidak enak kepadamu. Apa memang kamu tidak bisa lagi berkata jujur? Apa memang sikapku memuakkan sehingga kau ingin lepas? tak semudah itu. Kita telah berkomitmen untuk satu walau bukan dalam ikatan. Ini hati bukan mainan. Bukan untuk disinggahi lalu ditinggalkan. Kau juga tau tak hanya hujan, angin bahkan bintang telah menyaksikan. Dengan segala impian kita, kita ukir dengan sebuah tinta. Hanya karna kau bosan dan tak ingin bicara langsung padaku? Apa kau tak merasakan adanya perubahan pada sikapku? Sepertinya kamu merasa namun kau masih menunggu aku yang bilang. 
Masihkah kau ingat, aku pernah mengatakan "kalau kamu bosan, langsung bilang ya. jangan sungkan. kita nanti bisa cari solusi sama-sama" dan itu pun kau jawab "iya". Tapi kenapa harus menunggu aku bertanya? Lupa? Atau sungkan? Kurasa tidak. Mengambil hatiku saja, kau tidak merasa sungkan. Seharusnya kau berani mengatakan kalau "aku bosan dengan..., jadi kita harus gimana ya? biar kita satu sama lain enak dan tidak merubah hubungan" kalau tidak dibicarakan, mana aku tau kau sedang bosan? Kalau tak kau ungkapkan, mana tau kau sedang ingin memiliki waktu sendiri? Kalau kau tidak ungkapkan, kau yang menahan semuanya sendiri tanpa aku tau. 
Aku tau kau sebenarnya ingin berucap, tapi karna tidak enak hati saja denganku.. ingat perjuangan kita waktu jauh? ingat perjuangan kita saat bertengkar? ingat lagu-lagu favorit kita? ingat semua yang kita lalui bersama? :') aku harap kau ingat.. cry teapot sad teapot
Masih besar harapanku untuk tetap bisa berdua denganmu. Sampai nanti sampai akhir.. 

05 June 2014

Surti

  No comments    
categories: ,
Saat aku belum sepenuhnya tersadar, sempat mendengar sayup-sayup wanita yang tak asing lagi untukku. Kupenuhkan tatapan mataku yang telah tertidur entah berapa lama. Berat. Dengan penerangan apa adanya, jelas itu tak membantu.
Surti, dia memang sabar menghadapiku. Seorang pemabuk yang tak tahu diri. Sudah memiliki 2 anak, tapi masih saja tidak ingat. Surti membawakan segelas minum dan gorengan. Surti menyuruhku minum agar aku lekas sadar dari kejadian semalam. Dia bercerita bahwa aku terlalu teler saat pulang karna terlalu banyak minum. Dia lekas membawaku ke kamar dan ditidurkan. Sudah tak mengenal betapa gempal badanku menimpa badannya yang mungil. Sesekali ia menarik nafas, melegakan dadanya saat membawaku ke kamar. Aku tahu walau tak sepenuhnya sadar. Tak pernah terbesit olehnya untuk meninggalkan aku yang sedang terpuruk oleh hutang kesana kemari.
"mas, sudah enak badannya? Ini minumlah, biar lebih segar badanmu." Dia menyerahkan gelas itu.
"Ah dik Surti masih saja memperdulikanku. Anak kita sudah sekolah? Mas ingin mandi dik." Beranjak dari tempat tidur, dengan sempoyongan.
"Ah mas, nanti saja dulu. Mas belum bisa untuk mandi. Biarlah dulu disini. Paling tidak tidur di kasur beralas tikar sudah membuat kita nyaman." Surti mulai menangis
"Jangan bohong dik. Mas tahu kamu tidak suka melihat mas seperti ini, mas sadar dik. Tapi masih ada saja yang membuat mas seperti ini. Pekerjaan yang tidak dapat-dapat, anak-anak kita semakin dewasa dik!! Mas takut kalaumereka tidak sekolah!!" Tak sanggup ku menahan emosi.
"Sudah mas, dik Surti mengerti, kita tanggung ini bersama. Aku cinta kamu mas. Paling tidak kalau kita ada usaha, kita bisa bekerja. Asal mas tidak lagi mabuk-mabukkan. Ingat anak kita mas, mereka semakin dewasa, mereka pun akan mengerti kalau bapaknya suka mabuk." balasnya lemah.
Surti memang tak suka marah, padaku ataupun pada anaknya. Dia wanita yang sabar walaupun aku sebagai suaminya selalu emosi. Sudah pemabuk, tak bisa menafkahi keluarga. Untung saja anak-anakku semua berwatak seperti Surti. Jadi tak ambil pusing. Setelah mengurusiku, Surti berangkat bekerja dengan tetangga yang hanya berjarak 5 km. Dia membawa sepeda berkaratnya. Walaupun hanya buruh, paling tidak masih bisa membiayai keluarganya dengan pas-pasan. Surti selalu bersyukur dan dia tak pernah mengeluhkan lelahnya pada siapapun, termasuk suaminya. Aku. Surti berangkat jam 8 pagi sampai senja mengilatkan tubuh mungilnya dari kejauhan. Memang aku sebagai suami yang tidak bersyukur.
Setelah pulang dari kerja pun, dia tak langsung tidur, mengurusiku dan anak-anak kita. Memasak, menjadi guru dan mendongengi Ani sebelum tidur. Agus sudah bosan dengan dongeng yang selalu ibunya bacakan sebelum tidur. Aku melihat dari balik bilik pintu yang memang bolong. Setelah Ani tidur, aku memanggil Surti, mengajaknya ke kamar. Memang selama ini kita tak pernah bercakap berdua. Dia selalu diam kalau tidak aku tanya, karena dia tahu, aku tak suka melihat dia menangis. Surti selalu menangis saat kita bercakap serius.
"Dik, maafkan mas ya. Mas belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, ayah yang baik buat anak-anak kita. Mas minta janga pernah kau tinggalkan aku dik. Aku akan berusaha untuk kamu dan anak-anak. Mas rasa, sudah cukup kita menderita semenjak mas dikeluarkan dari pekerjaan. Mulai besok mas akan cari kerja ya dik. Doakan"
"Mas.., Surti tidak menuntut banyak. Surti selalu berdoa pada yang Kuasa agar mas disadarkan dari amukan amarah mas dan kembali bekerja. Entah semalam Surti mimpi apa, hingga Surti mendengar mas berbicara seperti ini. Surti akan selalu mendoakanmu mas. Surti senang mendengarnya. Makasih mas." Dengan suaranya yang lembut dan air matanya yang keluar melintasi pipi merahnya.
Surti memang lembut dari dulu dan tak ada yang berubah setelah kami punya anak pun. Percakapan itu pun kami akhiri  dengan janjiku tak akan mabuk dan menjadi suami serta ayah yang baik. Mungkin Dalam benaknya masih ada rasa tak percaya, tapi mewujudkan janjiku adalah tanggung jawabku. Semua demi Surti. Hingga bulan berganti, aku akan buktikan padamu dik, aku bisa berubah tuk dapatkan sesuap nasi. Lihat dik, aku buktikan ini.