05 June 2014

Surti

  No comments    
categories: ,
Saat aku belum sepenuhnya tersadar, sempat mendengar sayup-sayup wanita yang tak asing lagi untukku. Kupenuhkan tatapan mataku yang telah tertidur entah berapa lama. Berat. Dengan penerangan apa adanya, jelas itu tak membantu.
Surti, dia memang sabar menghadapiku. Seorang pemabuk yang tak tahu diri. Sudah memiliki 2 anak, tapi masih saja tidak ingat. Surti membawakan segelas minum dan gorengan. Surti menyuruhku minum agar aku lekas sadar dari kejadian semalam. Dia bercerita bahwa aku terlalu teler saat pulang karna terlalu banyak minum. Dia lekas membawaku ke kamar dan ditidurkan. Sudah tak mengenal betapa gempal badanku menimpa badannya yang mungil. Sesekali ia menarik nafas, melegakan dadanya saat membawaku ke kamar. Aku tahu walau tak sepenuhnya sadar. Tak pernah terbesit olehnya untuk meninggalkan aku yang sedang terpuruk oleh hutang kesana kemari.
"mas, sudah enak badannya? Ini minumlah, biar lebih segar badanmu." Dia menyerahkan gelas itu.
"Ah dik Surti masih saja memperdulikanku. Anak kita sudah sekolah? Mas ingin mandi dik." Beranjak dari tempat tidur, dengan sempoyongan.
"Ah mas, nanti saja dulu. Mas belum bisa untuk mandi. Biarlah dulu disini. Paling tidak tidur di kasur beralas tikar sudah membuat kita nyaman." Surti mulai menangis
"Jangan bohong dik. Mas tahu kamu tidak suka melihat mas seperti ini, mas sadar dik. Tapi masih ada saja yang membuat mas seperti ini. Pekerjaan yang tidak dapat-dapat, anak-anak kita semakin dewasa dik!! Mas takut kalaumereka tidak sekolah!!" Tak sanggup ku menahan emosi.
"Sudah mas, dik Surti mengerti, kita tanggung ini bersama. Aku cinta kamu mas. Paling tidak kalau kita ada usaha, kita bisa bekerja. Asal mas tidak lagi mabuk-mabukkan. Ingat anak kita mas, mereka semakin dewasa, mereka pun akan mengerti kalau bapaknya suka mabuk." balasnya lemah.
Surti memang tak suka marah, padaku ataupun pada anaknya. Dia wanita yang sabar walaupun aku sebagai suaminya selalu emosi. Sudah pemabuk, tak bisa menafkahi keluarga. Untung saja anak-anakku semua berwatak seperti Surti. Jadi tak ambil pusing. Setelah mengurusiku, Surti berangkat bekerja dengan tetangga yang hanya berjarak 5 km. Dia membawa sepeda berkaratnya. Walaupun hanya buruh, paling tidak masih bisa membiayai keluarganya dengan pas-pasan. Surti selalu bersyukur dan dia tak pernah mengeluhkan lelahnya pada siapapun, termasuk suaminya. Aku. Surti berangkat jam 8 pagi sampai senja mengilatkan tubuh mungilnya dari kejauhan. Memang aku sebagai suami yang tidak bersyukur.
Setelah pulang dari kerja pun, dia tak langsung tidur, mengurusiku dan anak-anak kita. Memasak, menjadi guru dan mendongengi Ani sebelum tidur. Agus sudah bosan dengan dongeng yang selalu ibunya bacakan sebelum tidur. Aku melihat dari balik bilik pintu yang memang bolong. Setelah Ani tidur, aku memanggil Surti, mengajaknya ke kamar. Memang selama ini kita tak pernah bercakap berdua. Dia selalu diam kalau tidak aku tanya, karena dia tahu, aku tak suka melihat dia menangis. Surti selalu menangis saat kita bercakap serius.
"Dik, maafkan mas ya. Mas belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, ayah yang baik buat anak-anak kita. Mas minta janga pernah kau tinggalkan aku dik. Aku akan berusaha untuk kamu dan anak-anak. Mas rasa, sudah cukup kita menderita semenjak mas dikeluarkan dari pekerjaan. Mulai besok mas akan cari kerja ya dik. Doakan"
"Mas.., Surti tidak menuntut banyak. Surti selalu berdoa pada yang Kuasa agar mas disadarkan dari amukan amarah mas dan kembali bekerja. Entah semalam Surti mimpi apa, hingga Surti mendengar mas berbicara seperti ini. Surti akan selalu mendoakanmu mas. Surti senang mendengarnya. Makasih mas." Dengan suaranya yang lembut dan air matanya yang keluar melintasi pipi merahnya.
Surti memang lembut dari dulu dan tak ada yang berubah setelah kami punya anak pun. Percakapan itu pun kami akhiri  dengan janjiku tak akan mabuk dan menjadi suami serta ayah yang baik. Mungkin Dalam benaknya masih ada rasa tak percaya, tapi mewujudkan janjiku adalah tanggung jawabku. Semua demi Surti. Hingga bulan berganti, aku akan buktikan padamu dik, aku bisa berubah tuk dapatkan sesuap nasi. Lihat dik, aku buktikan ini.

0 comments:

Post a Comment