19 July 2013

Ketika Aku Mulai Kenal dan Mencintaimu

  No comments    
categories: 

Ku bersyukur entah mulai darimana. Hujan pun mengerti. Sapu tangan yang dulu putih kini menjadi usang dan tak terurus. Sudah saatnya aku mengatakan bahwa apa yang aku rasakan kini menjadi suatu rasa yang timbul dalam benak. Ku lihat sekeliling yang mulai enggan dengan keadaan. Tapi aku bangkit karena cinta, cinta yang tak terbendung oleh lautan. Langit sebagai saksinya. Saksi yang sadar bahwa ada dua anak manusia yang sedang di mabuk asmara. Berlanjut dengan cumbuan rayunya. Mengantarkan gejolak dalam kerinduan. Aku tetap meringkuk dalam kehangatan itu. Bagai berlindung dalam selimut domba yang tebal akan bulu. Aku beruntung mengenalmu dalam sebelum hujan menyapumu. Mengenalmu waktu itu bagai mendapat berlian dalam tumpukan batu dalam kegelapan. Entahlah. Tapi aku dapatkan itu. Takdir atau jodoh. Tak terpikirkan.
Larik demi larik kata tercipta untukmu. Tersusun rapi dalam catatanku. Saat kita pertama bertemu hingga aku menjatuhkan hati padamu. Semenjak mencintaimu pun aku bahagia. Mungkin memang terlalu singkat. Tapi kamu tak dapat singkat tuk singgah di hidupku. Tak seperti kopi yang panas lalu cepat menjadi dingin. Tak seperti mendung yang hilang setelah hujan. Tapi kamu seperti kuku jika di potong, tetap tumbuh dan tak berakhir jika kematian yang menjemput. Rindu itu semu dalam cinta namun, rindu itulah yang mampu membuat hubungan menjadi indah.

0 comments:

Post a Comment